perahu berlabuh pada sandinya
perlahan meriakan keruhan air di tepi dermaga
bagaimana kita hidup bagai manusia
yang berakhir pada pelabuhan ketiadaan raga

Tentang Mata

               
                Mata, satu anugrah Allah yang sering kita lupa untuk jaga. Bayangkan jika dunia tanpa mata, atau mudahnya kita tanpa mata. Membaca, melihat, bergerak, belajar, bermain, bercinta, manakah yang tidak ada unsur dari mata yang menyokongnya?  Mata selalu ada ketika kita beraktivitas.
Mata itu bagi aku memberikan sebuah arti . Sendu, semangat. Mata itu adalah cerminan energimu.  Saat bahagia, saat sembab sedih, bahkan berapi- api. Mata memancarkan “aura” dari keteguhan jiwamu. Pernah suatu kali aku membaca dari buku motivator mana, *lupa, haha; dari mata kamu akan melihat seberapa kuat orang itu. Ya, aku pun menyadari bahwa mata juga menunjukan tekad seseorang. Tataplah mata maka kau akan melihat kekuatan orang itu
                Cukup. Mata dalam aktivitas. Aku ingin berbagi tentang “mata” yang pernah kulihat, terkandung kemurnian, dan “cahaya”. Pertama aku menatap, aku seakan tertarik ke dalam zona magnet yang ia pancarkan melalui matanya. Indah dan menawan. Entah ia sengaja atau tidak, tapi aku tetap terseret masuk ke dalam zona itu. Mata yang hitam sedikit coklat, bulat, pekat, namun bersinar. Kombinasi yang sedikit “aneh” karena terkandung hitam dan sinar. Tapi itulah matanya. Mata yang memancarkan energi dari dirinya. Tidak, tidak, matanya tidak sipit, juga tidak besar. Entah apa indikator besar dan kecil itu. Hanya, yang aku tahu pasti mata itu sedikit lebih besar dari kebanyakan, namun pas. Mata itu sangat cocok dengan garis wajahnya. Menambahkan unsur keindahan dari cahaya yang dipamerkan.
                Lembut untuk dilihat dan sejuk dirasakan. Pesona dari mata itu membujukku untuk larut dalam senyuman yang ditawarkannya. Tak sanggup untuk menolak, tak pula untuk melawan. Biarkanlah pandangan ini menerawang ke kedalaman arti yang dipancarkan.

EMPAT ISTRI

Illuminata 02 from forsup kaskus

EMPAT ISTRI

Pada zaman dahulu, ada seorang pedagang kaya yang memiliki 4 orang istri. Dia paling mencintai istri ke-4-nya dan memanjakannya dengan berbagai fasilitas hidup yang bagus. Dia sangat penuh perhatian terhadap istri ke-4 dan selalu memberinya yang terbaik.

Dia juga sangat mencintai istri ke-3-nya. Dia sangat membanggakannya dan selalu ingin memamerkannya kepada teman-temannya. Namun demikian, sang pedagang senantiasa khawatir kalau istri ke-3 ini kabur dengan pria lain.

Dia juga mencintai istri ke-2-nya. Istri ke-2 ini adalah wanita yang penuh pengertian, penyabar, dan menjadi sandaran sang pedagang. Bilamana sang pedagang menghadapi masalah, istri ke-2 selalu datang dan membantunya memberikan jalan keluar dari masalah.

Sang istri pertama adalah wanita yang sangat setia dan telah berjasa besar dalam menjaga kekayaan dan kejayaan sang pedagang, serta mengurus rumah tangga mereka. Namun demikian, sang pedagang kurang mencintai istri pertamanya dan jarang memperhatikannya.

Suatu hari, sang pedagang jatuh sakit dan tak berapa lama dia menyadari bahwa dia akan segera meninggal. Dia teringat kehidupan mewah yang telah dijalaninya dan merenung: "Di sini aku punya 4 istri yang mencintaiku, tapi kalau aku mati... aku akan sendirian. Aku akan kesepian!"

Maka dia bertanya kepada istri ke-4, "Aku paling mencintaimu, melimpahimu dengan busana terbaik, dan mencurahkan perhatian besar kepadamu. Sebentar lagi aku akan mati, maukah kamu pergi bersamaku?" "Tidak bisa!", jawab istri ke-4 sambil bergegas meninggalkannya. Jawaban itu laksana pisau tajam yang langsung menusuk hati sang pedagang.

Pedagang yang kecewa itu lalu bertanya kepada istri ke-3-nya, "Aku mencintaimu dengan segenap hidupku, tapi aku akan mati, maukah kamu pergi bersamaku?" "Tidak mau!", jawab istri ke-3. "Hidup ini begitu indah! Aku akan menikah lagi kalau kamu sudah mati." Mendengar jawaban ini, hati sang pedagang jadi runtuh.

Dengan sedih, dia bertanya kepada istri ke-2, "Aku selalu berpaling padamu dan kamu selalu menolongku. Sekarang aku butuh pertolonganmu lagi. Kalau aku mati, maukah kamu pergi bersamaku?" "Maaf, kali ini aku tidak sanggup menolongmu," jawab istri ke-2. "Paling-paling, aku hanya bisa mengirimmu ke krematorium." Jawaban ini bagaikan halilintar dan membuat sang pedagang diam terlongong-longong...

Tiba-tiba terdengar suara, "Aku akan tinggal bersamamu. Aku akan ikut ke mana pun kamu pergi." Sang pedagang menoleh dan dia melihat istri pertamanya. Ia begitu kurus, lemah, dan tampak kurang gizi. Sang pedagang jadi sangat terenyuh... dan meratap lirih, "Aku seharusnya memperhatikanmu selagi aku bisa..."

Demikianlah, istri ke-4 adalah ibarat tubuh kita. Tak peduli seberapa lama dan besar usaha kita untuk mempercantik tubuh, tubuh tidak akan pergi bersama kita ketika kita mati.

Istri ke-3 ibarat jabatan dan kekayaaan kita. Ketika kita mati, tidakkah mereka pergi menjadi milik orang lain? Tidakkah orang lain mengambil alih posisi kita?

Istri ke-2 adalah ibarat keluarga dan teman-teman kita. Tak peduli betapa baiknya mereka saat kita hidup, paling jauh mereka hanya akan bisa mengantar kita ke krematorium.

Istri pertama, dalam hal ini diibaratkan sebagai kesadaran atau sisi spiritual kita, yang telah kita abaikan sepanjang waktu dalam pengejaran kesenangan material dan indrawi. Padahal, justru kesadaran inilah yang merupakan satu-satunya hal yang terus bersama kita ke mana pun kita pergi.

Oleh karenanya, sudah semestinya kita mulai mengembangkan dan melatih kesadaran kita, alih-alih menunggu sampai menjelang ajal dan meratap, "Aku seharusnya memperhatikanmu selagi aku bisa..."

Be Happy!

Pelajaran Titanic

illuminata from forsup kaskus

ILLUMINATA 03


PELAJARAN TITANIC

Apa yang lebih berarti daripada kisah cinta dalam film Titanic, adalah bagaimana karakter yang berbeda-beda bereaksi di hadapan wajah kematian yang mendekat:

• Perancang kapal tampak merasa bersalah, ia sedih dan menyesal, merenungkan kesalahan yang telah ia buat, dan membiarkan yang lain berlari ke perahu penyelamat.
• Sang kapten tampak penuh dengan keterikatan, terjebak oleh reputasinya yang rusak dan mimpi indah pensiunnya yang hancur. Ia memegang topinya, tidak mencoba menyelamatkan diri, berdiam diri menunggu kematian. Terlalu angkuh?
• Si orang jahat sungguh tak bermoral, mencoba menyuap dan menipu untuk menyelamatkan diri sendiri.
• Sang petugas tidak sanggup lagi menahan beratnya tekanan saat mencoba menertibkan keadaan. Ia terpaksa menembak salah seorang penumpang yang tidak mau antri. Merasa menyesal dan tak berdaya, ia menembak dirinya sendiri!
• Ada juga orang-orang yang langsung terjun ke laut berenang mengejar perahu penyelamat yang sudah bergerak.
• Ada juga mereka yang berdoa dengan penuh semangat memohon pertolongan.
• Orang biasa, saling berebut untuk dapat masuk ke dalam perahu penyelamat.
• Terdapat juga mereka (seperti Jack dan Rose) yang tidak mau lepas satu sama yang lain, tapi tak peduli dengan sekitar! Betapa egoisnya cinta buta itu…
• Dan tentu saja, ada sekelompok pemain musik yang membuat sejarah dengan terus memainkan musik sampai mati di tengah orang-orang yang panik.

Jadi pertanyaannya adalah: jika Anda berada di dalam Titanic pada malam itu, Anda akan bereaksi seperti apa? Anda anggap reaksi itu tepat? Apanya yang tepat? Titanic merupakan bencana besar yang nyata. Ia merupakan satu-satunya kapal dalam sejarah yang diklaim tidak dapat tenggelam, namun ia karam dalam pelayarannya yang pertama. Apa hubungannya dengan kita?

Dari kisah nyata itu kita belajar bahwa dalam keadaan normal, setiap orang tampak baik, ramah, bersahabat, sulit untuk tahu siapa yang sebenarnya berkarakter baik atau buruk. Namun begitu krisis melanda… nah! Pada saat itulah, sifat asli setiap orang muncul! Ibarat banjir yang memunculkan semua kotoran, demikian pula kesusahan dan kemalangan akan memunculkan dengan jelas siapa yang baik dan siapa yang kurang baik. Dalam keadaan krisis, karakter asli setiap orang akan tampak lebih nyata. Ini bisa kita amati dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang di sekitar kita, termasuk diri kita sendiri.

Pelajaran penting lainnya adalah banyak di antara kita yang merasa dirinya Titanic: kita acapkali berlaku seolah kita tidak akan pernah mati. Kita merasa tidak dapat dikalahkan oleh Usia, Penyakit, dan Kematian, tak terkalahkan melawan Hukum Kesementaraan. Terselubungi oleh ilusi besar. Kesementaraan tidak untuk dibicarakan tetapi untuk dihayati sampai ke sumsum tulang. Kematian yang mendekat merupakan motivasi paling kuat bagi kita untuk mencapai keadaan yang mengatasi kematian.

Tepat pada hari kita dilahirkan, kita semua adalah Titanic yang SEDANG tenggelam, mengawali perjalan menuju kematian. Masalahnya adalah kita tidak pernah tahu seberapa banyak bagian dari kapal kehidupan kita yang masih berada di atas air. Sudahkah Anda rencanakan cara menyelamatkan diri? Bagaimana caranya Anda akan keluar dari kapal itu? Ada sebuah pepatah kuno di India:

”Hal yang paling menakjubkan di dunia ini adalah kita semua hidup seolah-olah kita masih akan hidup besok pagi.”

Pada suatu hari nanti, kita tidak akan hidup lagi dan bagian yang menakutkan adalah ‘besok’ itu bisa saja berarti betul-betul besok! Semoga kita dapat menghargai hidup ini dan sadar betapa pentingnya melampaui hidup dan mati, hari ini. Betul, sadarilah hal itu hari ini juga! Karena besok mungkin sudah terlambat.

Iya, iya, Anda sudah pernah mendengar nasihat semacam ini ribuan kali. Jadi, apakah yang ini akan menjadi satu nasihat lagi seperti yang sudah-sudah? Anda sendiri yang menentukan. Anda boleh mulai serius memikirkannya saat ini juga, atau besok???

Be Happy!

Satu Kisah untuk Dikenang


               
                Kehidupan. Satu kata banyak arti. Akan semakin banyak ketika kehidupan ini diisi oleh berbagai macam hal. Senang, sedih, bahagia, tertawa. Manis, pahit, tersenyum, menangis. Banyak hal yang sebenarnya menjadikan kehidupan ini sangat berarti untuk dilakoni, pun lebih manis saat mengingatnya.  Kehidupan ini tidaklah se linear yang kita sangka kawan, kehidupan ini berliku, dan terlampau terjal jika kita melakoninya hanya bersama bayangan kita. Terlalu pilu ketika kita mengisinya dan tak melihat siapupn di samping kanan kiri kita. Untuk itulah kita membutuhkan pendamping, dalam artian bukan lain jenis sebagai pasangan hidup, melainkan orang- orang yang tidak berhubungan darah dengan kita namun menganggap kita sebagai keluarga. Orang-orang inilah yang disebut sebagai sahabat hidup. Keluarga, rumah tempat kita dibutuhkan.
                Gue sendiri punya, orang- orang yang disebut sebagai sahabat ini. Tidak hanya terbatas pada lingkungan perkuliahan, rumah, atau organisasi. Beberapa orang- orang yang gue sebut sebagai sahabat  ini adalah pengawas gue. Yak! Penampar gue ketika gue salah bertindak. Mereka adalah orang- orang hebat yang sering kali kehadirannya gue lupain akibat terlena dalam zona nyaman gue. Yah, terkadang ketika kita berada dalam zona nyaman, apa pun sering kita lupakan asalkan diri kita udah nyaman. Tapi beberapa tahun belakangan, saat kita berada di kota masing- masing dan terpisah, rasa nyaman kita sendiri tidak pernah bisa ngalahin zona nyaman waktu kumpul bareng sahabat.
                UGM. Seorang Laki- laki. Mencoba hidup dalam perantauan yang minim jarak dengan rumah, namun kaya dengan usaha. Maniak Bola. Jarang pulang, sangat berhemat dalam pengeluaran dan mungkin cenderung pelit (hehehe). Loyal dalam usaha, pekerja keras, dan usaha jualan pulsanya semenjak SMA masih eksis. Penulis yang handal karena sering banget nongol di Soccer. Pemikir sejati masa depan muda, tapi cuman sebagai konseptor (sorry Mbah). Ilmu Pemerintahan adalah pilihan dalam menempuh sarjananya. Berbadan tinggi besar, tapi kacamata tebal. Ketika kami liburan bareng di Bali dan bertemu bule di pantai, dia dipanggil “Big Bear” sama bule. Hahaahaa.
                Seorang anak hitam berrambut keriting dan perutnya di depan. Anak sepasang guru di SMA kami, dan sedang giat- giatnya kuliah (bermalasan di kosan) di UNY. Gak ada tampang artis tapi sok ngartis. Hidupnya masih sejahtera dan belum mikirin duit. Hobinya abstrak tapi giat. Cukup enak kalau dimintai tolong (dipaksa) beliin makanan jikala ngumpul bareng.
                Pernah gue punya teman dari kelas 1-5 SD. Cukup dekat dan akrab, sampai pertengahan tahun kedua kelas 5 dia menghilang entah kemana. Waktu itu gue ngira dia pindah gara gara di kelas gue prkatekin cara berantem yang gue tiru dari komik. Hahaha. Ternyta dia pindah ke Tangerang. Konyol memang kalau di kenang. Sampai waktu pendaftaran siswa baru SMA, tiba- tiba dia telpon dan akan melanjutkan di SMA di kota gue, Kebumen. Kecil badannya, namun kuat mentalnya. Kadang sampai kuatnya, dia ga sadar kalo dia salah dan gak mau diingatkan. Hahaha. Tekad yang hebat serta jujur membawanya sampai ke manado, sebagai abdi negara. IPDN.
                Spirit of Java. Solo. Temen gue yang satu ini adalah korban ketidaksampaian obsesi ke Akmil (hehehe, jangan marah sob). Akibat tahun pertama gagal mendapat tempat di akmil gara- gara kurang tinggi badan (padahal badannya kaya kuli), banting stir lah dia ke teknik informatika di UNS. Orang ini sangat bisa gue andalkan kalau punya masalah yang harus diselesaikan. Teteg, sigap, dan kerja cepat. Sayangnya ini orang terperangkap dalam lika- liku cinta masa lalu. Hahaha.
                 
To be continued......
                Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Manado, Jakarta.  6 kota tempat perantauan kami (gue di Jakarta). Terpisah jarak, namun satu energi. Ideologi kami berbeda- beda, namun kami bersama. UNDIP, AKPOL, UNS, UGM, UNY, ITS, UI, IPDN. Berbeda uiversitas, satu jiwa, satu tujuan, demi pencapaian diri yang lebih sukses dan berjumpa untuk mengingat momen yang menakjubkan. FOR ALL OUR GAIN, AND OUR PAIN, THEN WE WILL CRY TOGETHER, REMEMBER THE PAST. THE GOLDEN MOMENT WE WALKED TOGETHER.
Dedicated for : La Ode Hishar, Zidni Husnirofik, Taufik Febriyanto, Dimas Adi Putra, Himawan Candra H, Samsul Rizal, M Doddy Airlangga.PEOPLE WHO LOVE ME MORE